Oleh: Ahmad Fadhli

Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya IPB

Hari ini ada sebuah berita booming yang menjadi viral di media sosial, terkait pemindahan makam akibat perbedaan pilihan politik. Kasusnya, seorang caleg di Kabupaten A yang berasal dari Partai X, menyuruh memindahkan makam orang yang sudah meninggal hanya karena salah satu keluarga si mayat (yang masih hidup) tidak mau memilih dirinya ketika Pileg 17 April 2019 nanti. Padahal si caleg tersebut masih memiliki hubungan darah yg cukup kental, baik dengan si mayat maupun dengan salah satu keluarga si mayat yang masih hidup tersebut.

Konyol memang, tapi itulah fenomena politik di negara demokrasi terbesar di Dunia ini (baca : Indonesia). Tidak masuk akal memang, apakah si Caleg tidak berfikir Intertemporal Choice? Meminjam istilah microeconomics, membuat pilihan keputusan dengan memasukkan masa saat ini (present) dan masa yang akan datang (future) kedalam pertimbangan keputusan yang dilakukan. Mungkin si Caleg berfikir ketika terpilih menjadi aleg di Alam Dunia saat ini (present), akan membuat dia terbebas dari hisab di Alam Barzah kelak (future).

Padahal negara kita adalah negara Pancasila. Bahkan masih membekas dimemori kita, beberapa waktu yang lalu semua Partai Politik mulai dari yang sayap kiri sampai sayap kanan sekalipun, semuanya memarketisasi partai mereka sebagai Partai Pancasilais. Sudah seharusnya Partai Politik dan para caleg nya itu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata (khususnya sila pertama dan sila kedua).

Nasi sudah menjadi bubur, keluarga si mayat terlanjur terluka. Hari ini mayat yang telah dikuburkan 26 tahun yang lalu, akhirnya digali kembali dan dipindahkan makamnya ke pemakaman non-partisan (baca : pemakaman umum). Aneh bin konyol memang, pemilihan umum yg dilakukan orang hidup (Alam Dunia), berimbas kepada orang mati (Alam Barzah).

Pesta demokrasi yang seharusnya menjadi ajang proses pendewasaan politik masyarakat, dinodai oleh kasus irasional seperti ini. Sudah seharusnya ketua partai X tersebut memecat anggotanya (si caleg) dari partai yang mengaku Pancasilais dan memiliki jargon Restorasi Indonesia. Sudah seharusnya kita semua berfikir kointegrasi (meminjam istilah dalam ekonometrik), hidup di Alam Dunia ini memiliki hubungan jangka panjang (long run relationship) dengan kehidupan selanjutnya di Alam Barzah dan bahkan Alam Akhirat kelak.

AF (2019)
Diatas Commuter Line JABODETABEK